Dahulu saat saya masih menjabat Ketua Humas pada salah satu organisasi ekstra Kampus, saya beranggapan bahwa wartawan (baik cetak maupun elektronik) sangat haus akan berita. Yang ada dibenak saya, apapun kegiatan yang dilakukan oleh organisasi, semuanya akan diliput oleh mereka. Ternyata anggapan saya salah.
Sebelum kita berbicara lebih jauh, ada baiknya saya sampaikan bagaimana kehidupan para wartawan dan proses pembuatan berita hingga akhirnya dapat di konsumsi sehingga kita dapat mengetahui sebesar apa peluang kita agar dapat diliput dan dipublikasikan oleh media.
Proses Publikasi Berita
Para wartawan biasanya masuk kerja (ke kantor) antara pukul 07.00 – 08.00 wib, diawali dengan rapat redaktur dan pembagian tugas, selanjutnya mereka berangkat untuk mencari berita sesuai dengan arahan dari atasan mereka (redaktur / coordinator peliputan). Mereka diharuskan untuk balik ke kantor antara pukul 16.00 – 17.00 wib.
Setelah tiba di kantor, mereka diharuskan untuk mengolah semua liputan yang mereka dapatkan hingga deadline antara pukul 17.00 – 18.00 wib. Saat itu wartawan media cetak harus menuliskan hasil liputan mereka begitu juga dengan wartawan media elektronik, mereka melakukan editing sound (radio) dan video (televisi).
Berita hasil ‘olahan’ wartawan media cetak di serahkan ke redaktur untuk dilihat apakah layak muat atau tidak. Jika ada yang harus diperbaiki, maka wartawan media cetak harus memperbaikinya dahulu sebelum diserahkan kepada redaktur dan selanjutnya diteruskan kepada layouter (pengatur tata letak). Pada beberapa media cetak (Koran) biasanya selama pengaturan tata letak, halaman utama (berita utama) biasanya dikosongkan hingga menjelang akan di cetak. Biasanya redaktur halaman utama sudah memiliki pilihan – pilihan yang mana yang akan diangkat menjadi berita utama. Pengosongan dilakukan untuk menunggu apakah ada berita terbaru yang akan menjadi berita yang luar biasa atau tidak. Hal ini sangat penting karena berita utama akan mempengaruhi tingkat penjualan Koran karena pembeli (pembaca Koran) tertarik untuk membacanya. Langkah selanjutnya setelah tata letak sudah selesai dan berita utama sudah di tentukan, hasil layout diteruskan ke percetakan untuk dicetak. Hal ini biasanya terjadi antara pukul 23.00 – 02.00 wib. Pukul 03.00 – 04.00 wib Koran telah selesai dicetak dan tinggal didistribusikan.
Para wartawan media elektronik setelah selesai melakukan editing (olahan) biasanya menyertakan (mengirimkan) berita hasil olahan beserta berita asli (original) yang belum diolah ke kantor pusat untuk ditindaklanjuti oleh redaktur pusat. Hal ini biasanya mereka lakukan antara pukul 18.00 – 20.00 wib dan berita yang masuk ke redaksi pusat akan melalui editor setelah itu jika layak muat maka akan di publikasikan pada saat berita malam atau esok hari saat berita pagi. Untuk kondisi atau berita tertentu (isu – isu luarbiasa) biasanya wartawan media elektronik setelah meliput, mereka langsung kembali ke kantor untuk melakukan pengolahan (editing) dan langsung mengirimkan beritanya ke pusat untuk segera ditayangkan pada saat berita siang atau berita sore dan malam.
Wartawan Oh Wartawan..
Selama ini kita menganggap kehidupan wartawan begitu menyenangkan, Padahal sebagian media memberikan gaji pokok bagi mereka di bawah UMR (Upah Minimum Regional) dan bagi media yang sedikit bonafit akan memberikan gaji wartawannya yang lumayan. mereka juga akan mendapatkan tunjangan/bonus jika berita mereka naik cetak/tayang (dipublikasikan).
Karena setiap berita yang akan dipublikasikan memberikan pemasukan/bonus bagi mereka, maka wajar jika mereka selektif dalam meliput berita agar tidak merugikan waktu dan tenaga mereka sendiri.
Peluang
Mengenai peluang kita dalam membangun citra dan opini di media sebenarnya sangat kecil. Mengingat ada ribuan organisasi di Indonesia yang memiliki kepentingan dan mengangkat isu yang berbeda – beda.
Sekarang mari kita hitung peluang kita secara matematis.
Jika saat ini Indonesia memiliki 33 Propinsi yang mana setiap propinsi memiliki 5 – 20 kabupaten/kota (kita ambil rata – rata 10). Maka jika kita totalkan:
33 Propinsi x 10 kabupaten/kota = 330 kabupaten/kota
Jika ada isu – isu kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, berbagai elemen melakukan aksi/acara di seluruh propinsi bahkan sampai kabupaten. Bayangkan jika setiap hari ada 1 aksi/acara per kabupaten/kota maka:
330 kabupaten/kota x 1 aksi = 330 aksi
Ada 330 aksi/acara yang terjadi di Indonesia, Bayangkan media cetak nasional yang memiliki ruang terbatas pada medianya untuk mempublikasikan 330 aksi/acara. Maka yang akan mereka lakukan adalah menseleksi mana yang layak muat di media cetak nasional. Selebihnya menjadi ‘sampah’
Sebagian dari aksi/acara yang tidak masuk media cetak nasional akan masuk di media cetak lokal (itupun dengan berbagai seleksi).
Untuk Media elektronik (televisi dan radio) nasional biasanya mereka hanya menyediakan durasi berita selama 4 jam (240 menit), yaitu berita pagi 1 jam, berita siang 1 jam, berita sore 1 jam dan berita malam 1 jam.
Jika setiap berita memiiki durasi hanya 1,5 menit saja maka setiap 1 jam hanya ada 40 berita yang dapat di publikasikan (ditayangkan). Jika kita anggap 5 dari 40 berita tersebut adalah aksi/acara organisasi, maka setiap harinya ada 20 berita mengenai aksi/acara organisasi.
Itu berarti untuk dapat masuk ke berita nasional, kita harus berjuang dengan 330 aksi/acara lainnya, maka peluang kita secara matematis adalah 20 : 330.
Mengenai hal ini, saat saya berkunjung ke Radio Prapanca FM dan bertemu dengan Manager Operasionalnya, Bang Iskandar. Beliau mengatakan bahwa Organisasi Mahasiswa harus dekat dengan Media. Untuk dapat diliput oleh Media maka lakukan hal – hal yang aneh. Contohnya:
- Jika aksi ingin diliput oleh wartawan, maka lakukan aksi/acara yang agak sedikit aneh. Misalnya: Aksi jalan mundur, aksi bakar ban dan buat macet, seminar menghadirkan orang – orang yang mirip tokoh politik, lomba sepak bola anjut usia. Dan aksi/acara kreatif lainnya.
Dengan aneh – aneh seperti itu diharapkan media akan menganggap hal tersebut unik berbeda dengan aksi/acara yang mengangkat isu serupa dan layak untuk jadi berita. Kecuali pada beberapa kasus dimana isu yang diangkat memang sangat strategis, tanpa melakukan hal yang ‘aneh’, media biasanya akan meliput dan mempublikasikannya. Contohnya: aksi menentang aliran sesat, aksi menentang korupsi dan aksi lainnya.
Untuk acara – acara seperti seminar, biasanya media akan melihat;
- Siapa pembicaranya
- apa isu yang dibahas di seminar tersebut.
- Siapa tokoh daerah/nasional yang dihadirkan.
Apa langkah yang harus kita lakukan?
Masih menurut bang Iskandar, faktor yang sangat menentukan suatu kegiatan di sorot dan dipublikasikan biasanya adalah kedekatan dengan para wartawan dan redakturnya. Maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki hubungan baik dengan para wartawan.
Selain itu, isu yang diangkat. Karena beberapa redaktur tetap memperhatikan isu yang diangkat berkaitan dengan profesionalismenya sebagai redaktur. Kalau ini dapat diakalin dengan membuat hal – hal yang unik / aneh dan sedikit G…I…L…A…(GILA) seperti yang sudah dijabarkan diatas. Sehingga walaupun ada beberapa organisasi yang mengangkat isu yang sama namun karena mereka ‘kurang gila’ maka kita tetap akan memenangkan opini untuk dipublikasikan.
Semoga Bermanfaat!!!!

